Analisa Kinerja Keuangan 34 Provinsi Indonesia di Tahun 2018

  • Harsono Yoewono
Abstract Views = 44 times
FULL TEXT [PDF] DOWNLOADS = 36 times

Abstract

Power sharing and delegation is politics in nature. The economic side appears on the regional budget planning and realisation. It is the mechanics and the setting of general policy, priority, and plafond of temporary budget. The latent fiscal gap occurs when revenues collected are lesser than expenditures spent, vice versa. Higher portion of expenditures posted as basic allocation has not been coped well with steady regional income. Supports in terms of better capability and capacity to collect regional revenues appear to be non-existent and meaningless, but the resource-rich regions. Even so, the central government appears to have big and deep impacts on the definition of taxable objects and types, and local retributions. This study is to seek which financial performance indicators that can be well-predicted by a numerous variables and indicators forming the regional budgets (APBD) of 34 provinces in Indonesia in 2018. The data was collected from DJPK website in early May 2019. The research method is quantitative descriptive in nature, and using both the OLS regression and determinant regression analysis. Based on the research of recent studies, a numerous financial performance indicators were derived as dependent variables, along with the variables forming the regional budgets of 34 provinces in Indonesia as independent variables. Sixteen dependent variables were set, whilst the 48 independent variables comprised of 4 groups, that is 4 variables of regional specific (r_#), 23 variables of revenues (y_#), 9 variables of expenditures (c_#), and 12 variables of finance/fiscal (f_#). Upon the results of OLS linear regression, 3 variables of financial performance appeared to be the most significant and appealing than the rest. They were independence (k_08), the ratio of DAU in TKDD to the DAU Formula (k_16), dan decentralisation (k_10). On the contrary, 3 variables of financial performance appeared to have no determining variables. They were PAD growth (k_14), fiscal soundness and regional financial management (k_03), dan effectiveness (k_11). These 3 variables were a part of 4 variables having the least adjusted R2, with infrastructure (k_04) as the remaining one. The heteroscedastic nature that appears in the k_14 estimation equation has suggested that k_14 fails to be used as the benchmark and reference of financial performance of regional budgeting, at least in its definition and operationalisation in this study and research. Likewise the usage of f_07 variable, the fiscal gap 1, the difference of DAU Formula with basic allocation (in basic data source).

References

Abdul Halim, Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. AMP YKPN.Yogyakarta, 2001.

Abdul Halim. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah, Salemba Empat. Jakarta. 2004.

Adrika Fardisa Maskuna, Abd. Kodir Djaelani, dan M. Khoirul ABS. Analisis Pengaruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kota Blitar Tahun 2011-2015, Universitas Islam Malang, 20170809.

Anwar Shah dan Zia Qureshi, Intergovernmental Fiscal Relation in Indonesia: Issues and Reform Option, Discussion Paper, World Bank, 1994:49-53.

Aswin Rizkiano, Pengukuran Tingkat Kemampuan Keuangan Daerah dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah Periode 2004-2008 di Kota Salatiga, 20110419.

Balitbang Depdagri – Fisipol UGM, Pengukuran Kemampuan Keuangan Daerah Tingkat II dalam Rangka Otonomi Daerah Yang Nyata dan Bertanggung Jawab, Jakarta, 1991.

BAPPENAS. Peta Kemampuan Keuangan Provinsi dalam Era Otonomi Daerah: Tinjauan Atas Kinerja PAD dan Upaya yang Dilakukan Daerah. Direktorat Pengembangan Otonomi Daerah. 2003.

Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, Manual Administrasi Keuangan Daerah, Jakarta. 1991.

Haryo Kuncoro, Variansi Anggaran dan Realisasi Anggaran Belanja Studi Kasus Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta, Jurnal Manajemen Teori dan Terapan, Vol.1, No.2, Agustus 2008.

Hery Susanto, Analisis Perkembangan Kinerja Keuangan Daerah dalam Upaya Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah di Propinsi Nusa Tenggara Barat, 2003-2007, FE Universitas Terbuka, 2008.

I Dewa Gde Bisma dan Hery Susanto, Evaluasi Kinerja Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun Anggaran 2003 – 2007, GaneÇ Swara, Edisi Khusus, Vol.4, No.3, Des. 2010.

Indah Yuliani Mone, Rahardjo Adisasmita, Mediaty, Pengaruh Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Ekonomi Daerah di Kabupaten Pangkep, 2003-2012, 20131127.

M. Bugis dan Bin Raudha A. Hanoeboen, Analisis Tata Kelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Maluku Tengah, 20170526.

Mardiasmo. Akuntansi Sektor Publik. Andi.Yogyakarta. 2002.

Mardiasmo.Otonomi Daerah dan Manajemen Keuangan Daerah.Andi.Yogyakarta. 2002.

Maria Rosarie Harni Triastuti, Muhadjir Darwin, dan Ratminto, Analisis Kemandirian Keuangan Daerah Kota Yogyakarta (Studi tentang Desentralisasi dan Otonomi Fiskal Daerah), Sosiosains, 18 (2), April 2005.

Mohamad Mahsun. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. BPFE, Yogyakarta, 2006.

Pandu Cahya Nugraha, Analisa Index Perhitungan Ratio Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta Periode Tahun 2007 sampai dengan 2011, Jurnal Perilaku dan Strategi Bisnis, Vol.5, No.1, 2017, hal.94-108.

R. Agoes Kamaroellah, Analisis Kinerja Pengelolaan Anggara Pendapatan dan Belanja Daerah pada Badan Keuangan Daerah Kabupaten Pamekasan. Laporan Penelitian, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan. 2017.

Ramliyanto, Penyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU), 20131210.

Rudy Badrudin, Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Belanja Modal, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah, Disertasi, Program Pasca Sarjana, Universitas Airlangga, Surabaya, 2012.

Ruslina Nadeak (Agnes Jeanette Nadeak), Analisis Rasio Keuangan APBD untuk Menilai Kinerja Pemerintah Daerah: Kasus pada Kabupaten Maluku Tenggara, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2003.

Satija, Muhadjir Darwin, dan Ratminto, Kapasitas Keuangan Daerah Kabupaten Sleman, Sosiosains, 19 (3) Juli 2006.

Silviana dan Melisa, Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2008-2012, Profita, Vol.6, No.3, Des. 2014.

Sukanto Reksohadiprodjo, Ekonomika Publik, BPFE Yogyakarta. 2001.

Yuliana, Analisis Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Ditinjau Dari Rasio Keuangan (Studi Kasus di Kabupaten Sragen Periode 2010-2012), Skripsi, Fak.Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2013.

Peraturan

UU No.33/2004 tentang PKPD (Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah)

UU No.32/2004 tentang Pemda

UU No.22/1999 tentang Pemda

UU No.5/1979 tentang Pemerintahan Desa (LN~1979 No.56, TLN No.3153)

UU No.5/1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (LN~1974 No.38, TLN No.3037)

UU No.19/1965 tentang Desapraja sebagai Bentuk Peralihan untuk Mempercepat Terwujudnya Dati III di Seluruh Wilayah RI.

Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Peraturan Menteri Dalam Negeri No.59/2007 tentang Perubahan atas Permendagri No.13/2006.

Published
2019-12-10
How to Cite
Yoewono, H. (2019). Analisa Kinerja Keuangan 34 Provinsi Indonesia di Tahun 2018. Jurnal STEI Ekonomi, 28(02), 170 - 197. https://doi.org/10.36406/jemi.v28i02.250